Bergerilnya dan Berlipat Ganda

Tepat 10 tahun terlewati. Angin demokrasi bersamaan datangnya aksi. Aksi penculikkan, penghilangan dan pembunuhan manusia, atas manusia lain dengan dalih “keamanan”.
“Sejarah umat manusia adalah sejarah tentang pertumpahan darah” Mereka menyebutnya. Sejarah juga mengukir heroistik, penderitaan dan perlawanan. Perlawanan atas rasa takut yang begitu akut. Tangan – tangan besi paling banyak turun menumpahkan darah, karena takut akan derita, harta dan tentunya tahta.

Sejarah itu berkedok agama, perusuh dan segala tentang komunis. Sejarah mereka ukir. Entah dengan senjata serdadu, racun dan perampasan hak. Lalu kemudian berakhir dengan darah. berdalih stabilitas dan menghambat pertumbuhan ekonomi. Tentu !
Membayangkan itu semua, jelas, menimbulkan rasa perih pedih. Suka dan duka berselimut air mata. Membayangkan yang lain hidup diatas kesengsaraan, pemiskinan – kemiskinan dan penderitaan, memunculkan rasa kecewa, anomali, ironi yang hanya dapat kita lampiskan dengan amarah. Amarah ku pada Tuan mu, yang begitu serakah !

Kebenaran senantiasa tegak, diatas segala kenisbian. “Bumi dan langit ditegakkan dengan keadilan dan kebenaran” teks suci menyebut itu. Estafet sejarah membentuk manusia – manusia yang rakus bak raja midas bahkan menciptakan firaun - firaun kecil. Bersamaan dengan itu, diutus pula manusia – manusia hanif, pemberani dan penuh cinta ; ibrahim, musa dan Muhammad. Kehanifan tak bisa tunduk pada nyala api, keberanian memastikan sang raja turun dari singgasana dan kebenciaan hingga fitnah bertubi, larut bersama cinta dari sang pecinta.

Semangat manusia – manusia tersebut, diadopsi, oleh manusia di ruang dan waktu yang berbeda. Mereka hadir menangkap semangat para pecinta. Membuat tuan disinggasana merasa terancam. Padahal mereka tuan !

Munir Said Thalib 

(8 Desember 1965 - 7 September 2004)


Munir Said Thalib, sejak beberapa dekade yang lalu, hadir membawa cerita yang membuat resah tuan dilingkaran kuasa. Mengatakan tidak pada ketidakadilan, turun kejalan, ke ruang sidang, ke ruang kerja para buruh lalu kemudian tercatat oleh sejarah, Di Udara, 7 September 2004. Ia tak takut, tak juga larut dalam semangatnya. Semangatnya dan idenya tetap bergerilya ! 

#MenolakLupa 10 Tahun Munir Tanpa Keadilan.
-        
  7 September 2014, Sembari menyimak Efek Rumah Kaca: Diudara -